Serly Anggraini Putri, 4421028 (2025) Kehidupan Perempuan Penenun di Silungkang pada Masa Krisis Ekonomi Tahun 1997-1998. Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
|
Text
Serly Anggraini Putri 4421028 cover.pdf Download (310kB) |
|
|
Text
Serly Anggraini Putri 4421028 abstrak.pdf Download (413kB) |
|
|
Text
Serly Anggraini Putri 4421028 full.pdf Restricted to Repository staff only Download (4MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan peran perempuan penenun di Silungkang selama masa krisis ekonomi 1997–1998. Krisis ini bukan hanya menghantam sektor formal nasional, tetapi juga mengguncang kehidupan masyarakat lokal, termasuk komunitas pengrajin tenun tradisional. Sebagai salah satu sentra tenun tertua di Sumatera Barat, Silungkang memiliki warisan budaya yang terjaga turun-temurun, terutama melalui keterlibatan perempuan dalam produksi kain songket. Namun, ketika krisis melanda, stabilitas ekonomi rumah tangga terguncang, menyebabkan perempuan harus mengambil peran sentral dalam menopang keberlangsungan keluarga dan tradisi. Sebelum krisis, aktivitas menenun berjalan dalam pola yang stabil. Perempuan menenun dari rumah, menjual hasil produksi melalui toko-toko atau juragan lokal, dan turut menjaga kesinambungan ekonomi keluarga tanpa tekanan yang berat. Mereka bekerja secara mandiri atau dalam kelompok kecil berbasis keluarga. Akan tetapi, krisis moneter menyebabkan harga bahan baku melonjak dan daya beli masyarakat menurun tajam. Produksi terhambat, banyak laki-laki kehilangan pekerjaan, dan peran perempuan pun bergeser dari sekadar pelengkap menjadi aktor utama dalam menjaga ekonomi keluarga. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kualitatif dengan pendekatan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, arsip, serta wawancara langsung dengan pelaku sejarah dan penenun di Silungkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan penenun mampu beradaptasi melalui berbagai strategi, seperti menyederhanakan motif, menggunakan benang sintetis, mengubah sistem produksi menjadi berbasis pesanan, hingga membentuk kelompok kerja informal seperti “arisan benang”. Selain itu, mereka menjalin kerja sama dengan pelanggan tetap dari luar daerah, bahkan merambah pasar mancanegara melalui jaringan diaspora Minangkabau. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perempuan penenun Silungkang tidak hanya bertahan selama krisis, tetapi juga bertransformasi menjadi tulang punggung keluarga dan komunitas. Mereka memainkan peran ganda yang krusial dalam menjaga ritme produksi tenun, memperluas jaringan sosial berbasis gotong royong, serta membentuk solidaritas lintas keluarga. Tradisi menenun tetap hidup, tidak hanya sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai bentuk ketahanan perempuan dalam menghadapi badai ekonomi nasional. Dalam konteks sejarah perempuan, kisah para penenun ini adalah cermin dari keberanian, ketekunan, dan kecerdasan sosial dalam menjawab tantangan zaman.
| Item Type: | Skripsi/Thesis/Disertasi (Sarjana) |
|---|---|
| Keywords: | Perempuan Penenun, Silungkang, Krisis Ekonomi 1997-1998, Tenun Songket, Strategi Adaptasi, Sejarah Perempuan |
| Subjects: | H Ilmu Sosial > HC Economic History and Conditions H Ilmu Sosial > HQ The family. Marriage. Woman |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah > Sejarah Peradaban Islam |
| Depositing User: | Mrs - Savira Suaida |
| Date Deposited: | 23 Feb 2026 05:01 |
| Last Modified: | 23 Feb 2026 05:01 |
| URI: | http://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/1665 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

