Mutya Rahmi, 4122041 (2026) Peran Ibu dalam Pengasuhan dan Relevansinya atas Fenomena Fatherless. Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
|
Text
Mutya Rahmi 4122041 cover.pdf Download (317kB) |
|
|
Text
Mutya Rahmi 4122041 abstrak.pdf Download (421kB) |
|
|
Text
Mutya Rahmi 4122041 full.pdf Restricted to Repository staff only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Ketiadaan atau minimnya figur ayah terhadap pengasuhan anak (fatherless) menimbulkan tantangan bagi perkembangan anak. Sejumlah penelitian sebelumnya berorientasi pada perbaikan relasi ayah-anak, tanpa menyoroti peran ibu sebagai solusi, sebagaimana tercantum dalam kisah Nabi Musa a.s. Penelitian ini berfokus pada penafsiran al-Qur’an atas peran ibu dalam kondisi fatherless masa sekarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian kepustakaan (library research). Teori ma’na cum maghza digunakan sebagai pendekatan penelitian. Data-data dalam penelitian dikumpulkan dengan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan berdasarkan langkah-langkah teori ma’na cum maghza terhadap surah al-Qashash ayat 7,10,11, dan 13 dan direlevansikan dengan fenomena fatherless. Hasil dari penelitian ini adalah: pertama, dinamika penafsiran dari masa klasik hingga kontemporer terhadap surah al-Qashash ayat 7, 10, 11, dan 13 menunjukkan bagaimana intervensi ilahi yakni wahyu melalui peran nyata ibu menyelamatkan nyawa Musa dari kekuasaan tirani Fir’aun. Wahyu tersebut berisi perintah menyusui, menghanyutkan, dan bersabar sampai waktu yang ditentukan untuk berkumpul kembali dengan bayinya. Ayat ini juga menjelaskan strategi konkret oleh Ibu Musa untuk menjaga bayinya dari jarak jauh. Janji Allah terbukti mengembalikan Musa kepada ibunya dengan banyak kelebihan, yakni mendapatkan perlindungan dan pengawasan dari pihak istana sebagai rencana dari pertolongan Allah kepada Musa a.s. Kedua, signifikansi historis ayat sebagai peneguhan hati kaum muslim yang merasa kekuatan tidak sebanding dengan orang musyrik melalui kisah Ibu Musa dan anaknya. Kisah Ibu Musa mengajarkan bahwa: 1) orang yang dipandang lemah secara sosial, dapat menjadi poros perlindungan sehingga tidak perlu merasa rendah diri. 2) pertolongan Allah selalu ada, baik disadari ataupun tidak, meski tidak instan. 3) diperlukan ikhtiar maksimal, tidak hanya sekadar pasrah. 4) setiap amal akan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar. Ketiga, signifikansi dinamis ayat menunjukkan peran ibu sangat vital dalam pengasuhan anak, terutama pada fase awal kehidupannya. Setidaknya ada empat pilar utama yang harus dijalankan ibu: 1) ketauhidan dan tawakal sebagai landasan pengambilan keputusan pengasuhan. 2) regulasi emosi berbasis iman untuk menjaga keteguhan psikologis. 3) sinergi ibu dengan keluarga dalam pengasuhan anak. 4) menjaga ikatan batin dengan anak. Oleh karena itu, ibu memiliki kapasitas luar biasa yang ditopang oleh iman dan pertolongan Allah, tanpa menafikan bahwa peran ayah tetaplah signifikan dan perlu diupayakan keberadaannya.
| Item Type: | Skripsi/Thesis/Disertasi (Sarjana) |
|---|---|
| Keywords: | Fatherless, Peran Ibu, Ma'na cum Maghza |
| Subjects: | H Ilmu Sosial > HQ The family. Marriage. Woman > HQ755.7 Orang Tua dan Anak |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Mrs - Savira Suaida |
| Date Deposited: | 07 May 2026 04:34 |
| Last Modified: | 07 May 2026 04:34 |
| URI: | http://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/2070 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

