Fatimah Azzahra, 4122012 (2026) Konsep Tadharru' dalam Al-Qur'an (Analisis terhadap Penafsiran Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur'an). Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
|
Text
Fatimah Azzahra 4122012 cover.pdf Download (273kB) |
|
|
Text
Fatimah Azzahra 4122012 abstrak.pdf Download (262kB) |
|
|
Text
Fatimah Azzahra 4122012 full.pdf Restricted to Repository staff only Download (5MB) | Request a copy |
Abstract
Pengaruh materialisme dan individualisme modern mendorong manusia menonjolkan kelebihan diri sehingga sikap rendah hati dalam beribadah semakin terpinggirkan dan ketergantungan kepada Allah kian memudar. Dalam konteks ini, tadharru’ menjadi ajaran spiritual yang urgen karena menegaskan kerendahan hati dan kepasrahan total kepada Allah, terutama saat menghadapi ujian dan kesulitan hidup. Meskipun sering disandingkan dengan kata tawadhu’, khusyu’, dan khudu’ dalam kerangka tazkiyatun nafsi, tadharru’ kerap dipahami secara umum dan disamakan dengan konsep-konsep tersebut, padahal tadharru’ memiliki penekanan makna tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam agar konsep tadharru’ dapat dipahami secara tepat dan ditempatkan secara proporsional dalam spiritualitas Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat library research (pustaka). Adapun sumber utama yang digunakan dalam penelitian ini yakni kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, sedangkan pendekatan penelitian ini menggunakan tematik ayat perspektif ‘Abd al-Hayy al-Farmawi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kata tadharru’ disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an. Sayyid Quthb membagi pemahaman tadharru’ ke dalam dua aspek pokok, yaitu sebagai sikap sekaligus tata cara berdo’a yang diridhai Allah yang tercermin dalam kerendahan hati, ketundukan jiwa, serta do’a yang disampaikan dengan lembut karena kesadaran akan kedekatan-Nya dan juga sebagai sarana spiritual untuk kembali mendekat kepada Allah, terutama ketika menghadapi ujian dan musibah, dengan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada pertolongan-Nya serta mengakui keterbatasan diri sebagai hamba. Gagasan Sayyid Quthb tentang tadharru’ memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan umat Islam masa kini, yakni sebagai penangkal sikap sombong dan riya’ di tengah budaya eksposur diri, sebagai dasar etika dalam menyikapi musibah dengan kesabaran dan ketundukan tanpa menyalahkan takdir, serta sebagai fondasi ketahanan mental dan spiritual agar manusia tidak terjerumus dalam keputusasaan saat menghadapi tekanan hidup. Dengan demikian, tadharru’ tidak hanya dipahami sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai nilai spiritual yang membentuk kepribadian Muslim agar senantiasa ikhlas, teguh, dan berserah diri kepada Allah dalam setiap keadaan.
| Item Type: | Skripsi/Thesis/Disertasi (Sarjana) |
|---|---|
| Keywords: | Al-Qur’an, Sayyid Quthb, Tadharru’, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an |
| Subjects: | B Filosofi. Psikologi. Agama > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc > BP100-134 Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Mrs - Savira Suaida |
| Date Deposited: | 13 Jul 2026 01:40 |
| Last Modified: | 13 Jul 2026 01:40 |
| URI: | https://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/2434 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

