Agam Pratama, 10123016 (2026) Studi Komparatif Ijtihad Imam Asy-Syafi'i dan Ibnu Hazm tentang Wasiat Wajibah Perspektif Maqashid Al-Syari'ah. Magister thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
|
Text
Agam Pratama 10123016 cover.pdf Download (170kB) |
|
|
Text
Agam Pratama 10123016 abstrak.pdf Download (335kB) |
|
|
Text
Agam Pratama 10123016 full.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Latar belakang dari penelitian ini adalah kompleksitas permasalahan wasiat dan wasiat wajibah dalam konteks modern, di mana dinamika sosial dan perubahan struktur masyarakat telah memunculkan berbagai persoalan baru yang membutuhkan solusi hukum. Maka Perbedaan pandangan antara Imam asy-Syafi'i dan Ibnu Hazm dalam masalah wasiat wajibah tidak hanya mencerminkan keragaman pemikiran dalam hukum Islam, tetapi juga menunjukkan fleksibilitas syariat dalam merespons kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, analisis terhadap ijtihad kedua ulama ini melalui perspektif maqashid al-syari'ah menjadi penting untuk memahami sejauh mana pandangan mereka sejalan dengan tujuan-tujuan syariat. Adapun rumusan masalah yang penulis bahas dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana ijtihad Imam asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm tentang wasiat wajibah?. 2. Bagaimana komparasi ijtihad Imam asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm tentang wasiat wajibah perspektif maqashid al-syari’ah?. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan data kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan melakukan penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Teknik analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu melakukan pendekatan analisis terhadap data-data yang bersifat umum untuk kemudian diolah dan mengahasilkan data yang bersifat khusus. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ibnu Hazm dan Imam asy-Syafi'i memandang wasiat wajibah sebagai instrumen hukum yang mempunyai berbagai dimensi yang melampaui perpindahan harta. Keduanya melihat wasiat wajibah sebagai praktik spiritual dan sosial untuk menjaga keseimbangan antara hak individual dan tanggung jawab kolektif. Ibnu Hazm menekankan wasiat wajibah sebagai kewajiban qadha'i yang melindungi kerabat tanpa warisan, sementara Imam asy-Syafi'i fokus pada wasiat wajibah sebagai ta'abbudi untuk menyelesaikan hak spiritual dan material yang belum terlaksana. Dalam perspektif maqashid al-syari'ah, kedua pemikiran berkontribusi pada perlindungan komprehensif lima aspek fundamental kehidupan: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, dengan pendekatan berbeda namun saling melengkapi untuk mewujudkan keadilan universal.
| Item Type: | Skripsi/Thesis/Disertasi (Magister) |
|---|---|
| Keywords: | Wasiat Wajibah, Asy-Syafi'i, Ibn Hazm |
| Subjects: | K Hukum > KBP Hukum Islam |
| Divisions: | Pascasarjana > Hukum Islam S2 |
| Depositing User: | Mrs - Savira Suaida |
| Date Deposited: | 10 Aug 2026 08:19 |
| Last Modified: | 10 Aug 2026 08:29 |
| URI: | https://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/2700 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

