Nisa Wati, 1122167 (2026) Pelaksanaan Batimbang Tando dalam Walimah Perkawinan di Nagari Salareh Aia Perspektif Fikih Munakahat. Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
|
Text
Nisa Wati 1122167 cover.pdf Download (258kB) |
|
|
Text
Nisa Wati 1122167 abstrak.pdf Download (210kB) |
|
|
Text
Nisa Wati 1122167 full.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tradisi batimbang tando gadang dan tando kaciak yang berimplikasi pada model pelaksanaan walimah terhadap masyarakat nagari Salareh Aia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan batimbang tando terhadap walimah perkawinan di nagari Salareh Aia, serta untuk mengetahui pelaksanaan batimbang tando di nagari Salareh Aia perspektif fikih munakahat. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari niniak mamak, tokoh agama, pelaku adat, serta masyarakat yang mengetahui dan terlibat dalam pelaksanaan tradisi batimbang tando. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang berkaitan dengan fikih munakahat, hukum adat, dan perkawinan Islam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menghubungkan hasil temuan lapangan dengan konsep-konsep fikih munakahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi batimbang tando dilaksanakan sebelum akad nikah sebagai bentuk pengikat dan kesepakatan antara kedua belah pihak yang akan melangsungkan perkawinan. Dalam pelaksanaannya terdapat tando gadang dan tando kaciak yang berfungsi sebagai penanda bentuk walimah yang akan diselenggarakan setelah akad nikah. Tradisi ini memiliki fungsi sosial dalam mempererat hubungan kekeluargaan, menjaga komitmen antara kedua belah pihak, serta memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai bentuk alek yang telah disepakati. Dalam tradisi ini terdapat tando gadang, tando kaciak, serta sanksi adat berupa denda seperti seekor jawi. Secara umum denda adat itu tidak ada di dalam fikih munakahat tapi bisa dilaksanakan selama itu disepakati oleh masyarakat dan di pahami tujuannya. Berdasarkan perspektif fikih munakahat, perbedaan bentuk walimah tersebut tidak ditentukan berdasarkan jenis tando, karena fikih tidak menetapkan adanya pembagian walimah menjadi Tando Gadang dan Tando Kaciak. Walimah merupakan bentuk rasa syukur dan pengumuman atas perkawinan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan pihak yang melaksanakan. Oleh karena itu, Batimbang Tando sebagai adat masyarakat pada dasarnya dapat diterima selama tidak dianggap sebagai kewajiban agama dan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Dalam penelitian ini, konsep ‘urf digunakan untuk menjelaskan kedudukan Batimbang Tando sebagai kebiasaan yang hidup dalam masyarakat, sedangkan fikih munakahat digunakan sebagai perspektif utama untuk menganalisis pelaksanaan walimah yang berkaitan dengan tradisi tersebut.
| Item Type: | Skripsi/Thesis/Disertasi (Sarjana) |
|---|---|
| Keywords: | Batimbang Tando, Walimah Perkawinan, Fikih Munakahat, ‘Urf, Adat Minangkabau |
| Subjects: | G Geografi, Antropologi. Rekreasi > GT Manners and customs K Hukum > KBP Hukum Islam > KBP524 Hukum Keluarga islam |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | Mrs - Savira Suaida |
| Date Deposited: | 13 Oct 2026 08:48 |
| Last Modified: | 13 Oct 2026 08:48 |
| URI: | https://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/2968 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

