Relevansi Hadis Anjuran Memakai Thib bagi Laki-laki pada Hari Jum’at terhadap Etika Sosial Tinjauan Maa’anil Hadis Yusuf Al-Qardhawi

Meri Lestari, 4219017 (2026) Relevansi Hadis Anjuran Memakai Thib bagi Laki-laki pada Hari Jum’at terhadap Etika Sosial Tinjauan Maa’anil Hadis Yusuf Al-Qardhawi. Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

[img] Text
Meri Lestari 4219017 cover.pdf

Download (326kB)
[img] Text
Meri Lestari 4219017 abstrak.pdf

Download (271kB)
[img] Text
Meri Lestari 4219017 full.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami kembali anjuran penggunaan wewangian (thib) bagi laki-laki pada hari Jumat, yang sering kali hanya dipahami sebagai ritual sunnah individual. Dalam realitas modern, interaksi sosial di ruang publik yang tertutup dan ber-AC menuntut pemaknaan hadis yang lebih progresif guna menciptakan kenyamanan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk membedah pemaknaan hadis tersebut menggunakan metode Ma’anil Hadis perspektif Yusuf al-Qardhawi serta menganalisis relevansinya terhadap pembentukan etika sosial di masa kini. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif berbasis studi pustaka (library research). Data primer bersumber dari Sunan at-Tirmidzi dan Musnad Ahmad bin Hanbal, sementara data sekunder mencakup kitab-kitab syarah hadis dan literatur terkait etika sosial. Analisis data dilakukan melalui langkah-langkah pemaknaan hadis Yusuf al-Qardhawi, dengan fokus pada sinkronisasi petunjuk Al-Qur’an, analisis kebahasaan, dan tinjauan konteks historis (asbabun wurud). Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis tentang penggunaan wewangian tidak semata-mata dipahami secara tekstual sebagai anjuran ritual, melainkan memiliki dimensi sosial, etika, dan kemaslahatan. Wewangian dimaknai secara luas sebagai simbol kebersihan, kerapian, dan penghormatan terhadap orang lain dalam ruang ibadah. Relevansi pendekatan ini dalam konteks modern terlihat dari fleksibilitas dalam menentukan sarana (wasilah), seperti penggunaan parfum, deodorant, atau praktik kebersihan lainnya, dengan tetap berorientasi pada tujuan utama (ghayah), yaitu menciptakan kenyamanan, menghindari gangguan, serta menjaga kesucian dan kehormatan masjid. Dengan demikian, metode ma‘ānī al-hadis ala Yusuf al-Qaradawi memberikan pemahaman yang aktual dan aplikatif, sekaligus menegaskan bahwa ajaran Islam bersifat dinamis, adaptif, dan menempatkan etika sosial sebagai bagian integral dari ibadah. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam, tetapi juga menjadi pedoman praktis dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan berkeadaban di tengah masyarakat modern.

Item Type: Skripsi/Thesis/Disertasi (Sarjana)
Keywords: Maanil Hadis, Thib, Hari Juma’at, Etika Sosial
Subjects: B Filosofi. Psikologi. Agama > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc > BP135 Literatur Hadis, Tradisi, Sunnah
Divisions: Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah > Ilmu Hadist
Depositing User: Mrs - Savira Suaida
Date Deposited: 20 Apr 2026 01:01
Last Modified: 20 Apr 2026 01:01
URI: http://repository.uinbukittinggi.ac.id/id/eprint/1935

Actions (login required)

View Item View Item